Shinji Aoba Akui Dirinya Ingin Melukai Banyak Orang dalam Insiden Kyoto Animation

November 11, 2019 7:50 pm
Shinji Aoba Akui Dirinya Ingin Melukai Banyak Orang dalam Insiden Kyoto Animation

Pelaku dari pembakaran Studio 1 Kyoto Animation di Kyoto, Shinji Aoba dicecar banyak pertanyaan oleh investigator kepolisian baru-baru ini. Dilansir oleh Japan Times, Aoba mengakui ia ingin melukai banyak orang dari serangannya pada 18 Juli lalu.

Aoba juga menjelaskan, “Saya menargetkan pada Studio 1, dimana banyak karyawan bekerja disana, dikareanakan ia ingin melukai banyak orang.” Tak hanya disitu, ia juga menambahkan, “Saya memantik api (tersebut) dikarenakan (Kyoto Animation) mencuri novel saya.”

Tersangka mengatakan ia sudah bertekad untuk melakukan serangan pembakaran Juli lalu saat ia meninggalkan kediamannya di Prefektur Saitama. Ia juga mengharapkan hukuman mati terhadapnya. Mengenai banyak pisau yang ditemukan di tas dan suatu tempat dekat TKP, Aoba menjelaskan ia sudah merencanakan akan menyerang orang-orang yang akan menghalangi proses pembakarannya.

Kini, Aoba masih menderita luka bakar yang cukup parah di sekujur tubuhnya akibat dari serangannya tersebut. Ia kini dirawat intensif di rumah sakit yang tidak disebutkan namanya di Prefektur Osaka. Kepolisian masih menunggu pemulihannya untuk melakukan penangkapan sekaligus investigasi lebih lanjut.

Kyoto Animation sendiri telah membuka rekening donasi untuk keluarga korban dengan mengatasnamakan CEO KyoAni, Hideaki Hatta. Ketua Komite Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat, Shinichi Isa mengumumkan bahwa Kyoto Animation tidak akan menggunakan uang yang terkumpul untuk memulihkan operasi bisnis mereka, dan akan menggunakannya untuk memenuhi jumlah santunan dari korban serangan pembakaran tersebut.

Sejumlah aktor, mangaka, novelis, studio novel visual dan berbagai aktivis hiburan lainnya telah menyumbangkan donasi melalui rekening yang telah dirilis. Sebagian besar mengharapkan supaya kejadian ini menjadi yang terakhir dalam dunia animasi dan juga hiburan. Periswita ini menjadi insiden pembantaian paling mematikan dalam sejarah Jepang setelah Perang Dunia Kedua dan insiden kebakaran paling mematikan sejak insiden Myojo 56 pada tahun 2001.

Sumber: Japan Times