Kepolisian Kyoto Masih Menunggu Pulihnya Kesehatan Pelaku Pembakaran Studio KyoAni

December 19, 2019 11:54 am
Kepolisian Kyoto Masih Menunggu Pulihnya Kesehatan Pelaku Pembakaran Studio KyoAni

Tersangka pembakaran Studio 1 Kyoto Animation, Shinji Aoba (41) kini tengah dalam rehabilitasi oleh tim medis di sebuah rumah sakit di kota Kyoto. Meskipun nyawanya sudah terselamatkan, namun pihak berwajib belum dapat menangkap Aoba dikarenakan belum mendapat lampu hijau dari tim medis. Kemungkinan besar Aoba tidak akan diadili pada sisa hari di tahun 2019 ini.

Insiden yang terjadi pada 18 Juli lalu ini menyulut banyak amarah para pekerja seni di seluruh dunia. Aoba yang dicurigai memiliki motif balas dendam, menyiramkan bahan bakar di studio tersebut dan langsung memantik api. Aoba sendiri juga terbakar oleh api yang ia buat sendiri. Saat diselamatkan, ditemukan sejumlah pisau di dalam tasnya dan di sejumlah tempat di sekitar studio. Aoba sendiri mengakui bahwa ia berniat membunuh karyawan dari Kyoto Animation di studio 1.

Setelah dilarikan ke rumah sakit di Kyoto pada hari yang sama, Aoba menjalani perawatan fase pertama hingga 20 Juli. Kemudian ia diterbangkan ke rumah sakit di Prefektur Osaka dimana ia mendapatkan penanganan lebih lanjut. Setelah lebih dari 3 bulan dilakukan penanganan, ia diterbangkan kembali ke Kyoto pada 14 November lalu.  Hingga kini Aoba belum dapat berjalan dengan sendirinya dan masih dalam rehabilitasi.

Insiden ini juga menjadi evaluasi terberat bagi tim bantuan medis bencana (DMAT) di Prefektur Kyoto. Dilansir oleh Kyoto Shimbun, tim medis bencana baru datang sekitar 1 ½ jam pasca kebakaran muncul di Studio 1. Kebakaran terjadi pada pukul 10:30 waktu setempat, namun pada pukul 11:30 beberapa staf dari departemen medis prefektur baru menyadari adanya kebakaran ini lewat media sosial dan langsung menanyakan kepada Divisi Perencanaan Pencegahan Bencana dan Kebakaran. Pada pukul 11:44, Departemen Pemadam Kebakaran Kota mengirim pesan faks ke Divisi Perencanaan Pencegahan Bencana dan Kebakaran yang bertuliskan bahwa terdapat 10 hingga 15 kasus kematian dan sejumlah korban luka-luka yang mereka dapatkan. Di waktu tersebut, sudah 1 jam lebih 20 menit sejak kebakaran terjadi.

Keterlambatan ini menimbulkan permintaan yang cukup tinggi dari personil medis di Prefektur Kyoto. Mereka meminta pemerintah prefektur untuk membuat sistem terbaru yang dapat memudahkan penyebaran informasi terkait kejadian yang membutuhkan tenaga pemadam kebakaran dan tim medis. Permintaan ini disambut baik oleh pemerintah prefektur, dan mereka sedang mempertimbangkan untuk merancang sistem terbaru.

Sumber: Kyoto Shimbun (1, 2)