[Review] Sang Dewi Dalam Menara

Siapa tak kenal Persephone dan Hades? Legenda mereka ini yang menginspirasi tokoh dalam cerita kita. Berlatar di Derbyshire Inggris, tahun 1811. Lady Proserpina Hathersage, seorang putri bangsawan yang pemalu, bertemu dengan pria yang mengaku bernama Lord Hades. Proserpina atau Phona (nama panggilnya) tidak menyadari bahwa lelaki yang kemudian menyekapnya dalam menara itu kelak berperan besar dalam mengubah hidupnya. Seiring dengan mendalamnya hubungan mereka, Phona kemudian menemukan satu demi satu kebenaran misteri tentang lelaki itu terkuak. 

Di awal cerita, kita akan dibawa menyelami manisnya interaksi antar-karakter. Seperti taman yang dipenuhi warna-warni bunga; indah dipandang dan tidak membosankan. Karakter Persephone yang dibangun dengan kuat secara fisik dan mental, cukup untuk membentuk rasa simpatik di hati pembaca.

sang dewi dalam menara

Alih-alih digambarkan sebagai pria bertangan besi yang arogan, Lord Hades ternyata adalah pria berhati lembut dan ringan tangan. Kelembutan yang sanggup meluluhkan putri bangsawan yang berjiwa sedikit liar seperti Phona.

Ini adalah kisah yang melampaui zaman. Bagaimana cara Persephone mendongkrak kekangan adat yang masih berlaku pada perempuan masa itu. Kalau bukan karena Phona yang nekat kabur menghindari pesta perjamuan wanita yang biasa dihadiri ibunya, penculikan Hades tak akan terjadi. Juga bagaimana saat ia mengukuhkan pilihan menerima lamaran Hades, menghadapi penolakan keras dari ibunya, yang menentang hubungan mereka.

Ada satu adegan yang paling saya suka. Salah satu watak Phona adalah kurangnya rasa percaya diri. Kecantikan Phona menuai pujian dari Lord Hades. Akan tetapi, Phona berupaya menampiknya dengan cara merendahkan diri. Aksinya mendapat tanggapan tak terduga dari Lord Hades, yang menamparnya dengan kalimat: “Kenapa kamu tidak melihat dirimu sendiri dengan benar?!”

Terkadang, dibutuhkan bimbingan orang lain untuk mengenali siapa sesungguhnya diri kita. Seperti halnya Phona yang belajar menghargai diri sendiri, berkat bimbingan Hades. Tidak ada salahnya membuka diri pada hal-hal baru di luar lingkup kita dan mempelajari sedikit banyak darinya.

Ada masa ketika taman itu kehilangan keindahannya dan bunga-bunganya terancam layu. Intensitas konflik cerita meningkat begitu para karakter dihadapkan menemui masalah yang berputar pada masa lalu Hades. Lelaki itu, yang ternyata adalah bangaswan bernama Leopold DeBolsover alias Lord Pointeforte, masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan. Sekali lagi, kesetiaan cinta mereka diuji.

Masalah dari masa lalu keluarga Leopold ini, butuh sedikit penghayatan untuk memahami detailnya. Namun, bagian ini sudah menamatkan porsinya sebagai konflik utama cerita dengan sangat memuaskan. Di sinilah, pendirian Phona menampakkan pengaruh yang berarti. Berkat Phona yang keras kepala, sang ibu pun luluh pada keberaniannya dan berbalik mendukung bahkan nyaris saja mengorbankan nyawa demi melindungi sang putri.

Hal lain yang paling berkesan adalah kentalnya nuansa historis dalam cerita ini. Saya menyukai detail penggambaran dekorasi ala bangsawan di era itu; arsitektur baroque, gaun berenda dan pesta-pesta. Bila Anda penggemar cerita romansa klasik seperti Pride & Prejudice-nya Jane Austen, berarti komik ini sangat tepat jadi pilihan bacaan. Meski demikian, komik ini sangat direkomendasikan bagi semua kalangan. Bukan seperti historical fiction yang sempat saya impresikan sebagai kisah berliku yang rumit narasi dan berat dalam dialogsehingga butuh pemahaman mendalam. Penyampaian dialog dalam komik ini terasa natural, mengalir sepanjang alur cerita dan menguatkan bangunan plotnya.

Mungkin, salah satu unsur ‘historis’ itu melengkapi intisari legenda yang menjadi inspirasi asal ceritanya. Saya menemukan sedikit kesamaan dalam cerita ini dengan legenda Hades Persephone yang sebenarnya. Seorang Hades yang jatuh hati pada Persephone. Berkebalikan dengan caranya yang ekstrim (seperti menculik) untuk ‘memiliki’ Persephone, ia menginginkan agar cintanya dibalas secara tulus. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginannya. Hades-pun berdiri setia di sisi Persephone , dan tidak menduakannyasalah satu yang berpendapat bahwa cerita mereka adalah legenda terindah di antara seluruh kisah romansa milik para dewa-dewi Olympia.

‘Hades dan Persephone’ kita di sini tidak perlu bersitegang dengan Zeus ataupun Demeter selaku orang tua Persephone  selama masa penculikannyayang kemudian melahirkan legenda empat musim. Hades dan Phona dalam cerita ini jauh lebih sederhana dan dekat dengan imajinasi kita.

Sebagai penutup, bahwa masih ada sejuta hal baik yang disimpan kehidupan untuk kita, mungkin adalah salah satu pesan tersirat dalam sebuah cerita romansa yang dipenuhi air mata kebahagiaan di penghujungnya.