[Review] Imbalan Sebuah Cinta

Sebuah komik One-Shoot bergenre romatis yang terbit di situs romancecomics.com. Komik ini berisi 129 halaman dengan 50 halaman pertama yang dapat dibaca sebagai preview secara gratis. 

Pada awalnya, Imbalan Sebuah Cinta merupakan sebuah novel bergenre Roman Kontemporer karangan Abby Green, dengan judul asli ‘When Christakos Meets His Match’ yang terbit pada tahun 2014. Kemudian pada tahun 2015, dibuat menjadi komik yang digambar oleh Shion Hanyu, lalu diterbitkan oleh Harleyquin Japan.

Sebetulnya, seri ini terdiri dari tiga buku yang pemeran utamanya laki-laki tampan dan mapan saling terhubung satu sama lain. Diawali dari judul Dosa dan Hukuman Cinta dilanjutkan dengan Imbalan Sebuah Cinta dan diakhiri oleh judul Sang Pemilik Kastel. Meskipun berseri dan tokoh utamanya berhubungan satu sama lain, ajaib dan ajibnya, saya bisa cukup dengan membaca satu seri saja tanpa merasa komik tersebut berakhir menggantung ataupun terkesan seperti saya ‘melewatkan sesuatu’ ketika pertama membacanya.

Apabila dilihat dari sampulnya saja, menurut saya Art style-nya mirip dengan milik Ogawa Chise. Bagi kalian yang kurang lebih satu kaum sebagai penikmat BL dengan saya, kalian akan tidak asing dengan Ogawa Chise. Akan tetapi, ketika kalian membuka keseluruhan komiknya, kalian akan menyadari bahwa ternyata Art style-nya tidak punya kemiripan dengan milik Ogawa Chise. 

Saya akui Art style milik Shion Hanyu ini punya semacam ‘atmosfer’ yang berbeda dari kebanyakan judul di situs romancecomics.com. Ada sensasi yang lebih fresh ketika melihat Art style yang terdapat pada sampulnya. Bagi saya, sulit untuk mengabaikan yang satu ini karena Art style-nya yang cocok di mata saya. Itulah setidaknya yang menimbulkan impresi positif pertama dari komik ini.

Awalnya saya agak skeptis dengan komik ini karena saya pikir hanya Art style-nya saja yang membuat saya kepincut. Namun, saya selalu menekankan pada diri saya sendiri untuk tidak menilai sebuah buku dari sampulnya dan tidak menilai seorang lelaki dari dompetnya wajahnya. Untungnya, meskipun saya tidak melakukan itu, komik ini benar-benar sesuai antara sampul dan isinya. 

Pada sampulnya, tergambar seorang pria mapan yang penghasilannya mampu membuat sobat nasi kecap menjerit iri. Selain diiberkati dengan pendapatan yang tidak habis dibelikan seluruh koleksi nendo Arknights, ia juga diberkati wajah rupawan yang mampu membuat wanita sehat dan bugar seperti saya mengimpikannya menjadi bagian dari hari tua saya.  

Namanya Alexio Christakos. Seorang CEO perusahaan Maskapai Penerbangan yang masa kecilnya tercoreng akibat ulah ibunya sehingga punya pemikiran bahwa setiap wanita di dunia yang tergila-gila padanya semata hanya karena hartanya.

Awal cerita bermula akan kenangan Christakos soal ibunya. Dengan sikap layaknya gentleman sejati, Christakos kecil yang melihat ibunya dipenuhi lebam berniat untuk mengajak kabur ibunya. Namun, niat tulusnya ditepis begitu saja oleh sang Ibunda dengan dalih ia masih butuh uang dari pasangannya sehingga ia memutuskan untuk bertahan. Sejak itulah, pandangan Christakos soal wanita berubah drastis.

Pertemuannya dengan Sidonie Fitzgerald mengantarkannya menemukan sosok wanita yang sangat berbeda dengan apa yang selama ini ia percayai. Sidonie merupakan gadis miskin yang terjerat hutang hingga milyaran lantaran ulah ibunya yang memperdaya bibinya yang sakit untuk menandatangani surat perjanjian hutang. Lalu Ibunya mati kecelakaan.

Sidonie yang kasihan terhadap bibinya, memutuskan untuk mengambil langkah berani sebagai penjamin hutang bibinya. Ia bahkan rela pergi keluar negeri untuk mencoba peruntungan bekerja siapa tahu bisa dapat banyak uang.

Sidonie, meskipun miskin, berhasil membeli tiket penerbangan kelas ekonomi. Dan Christakos, meskipun wong sugih, memilih untuk naik penerbangan kelas ekonomi. Maka, dengan keputusan yang diambil keduanya, mereka bertemu dan duduk bersebelahan di kursi kelas ekonomi. 

Komik ini berhasil membuat awalan yang menurut saya tidak mainstream. Meskipun tidak mainstream namun rasanya tetap saja wajar jika sebuah pertemuan indah terjadi dalam pesawat. Wajar dan masuk akal bila dibandingkan dengan beberapa kisah cinta yang pertemuannya terjadi di luar angkasa atau di dunia iblis. 

Selain itu, sifat Christakos juga membuat saya kembali berpikir bahwa terkadang menjadi wong sugih bukan diperoleh dari orang tua angkat yang dari awal sudah sugih seperti Kaiba Seto. Justru meskipun keluarganya kaya, Christakos memilih membangun dinasti penerbangannya setapak demi setapak hingga mengantarkannya sukses di usia muda. Itulah yang menjadikannya berkualitas sebagai pemimpin. 

Bukti kecemerlangannya sebagai pengusaha ada di scene mengapa ia memilih penerbangan kelas ekonomi. Ia lakukan itu untuk mensurvei apakah kelas ekonomi dalam bisnisnya tetap memiliki pelayanan baik atau apakah ada kekurangan yang hanya bisa ia rasakan bila terjun langsung ke lokasi. Sebuah sifat yang patut kita teladani bila kita ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses.

Sedangkan Sidonie, awalnya ia bukan heroine yang sempurna. Bukan juga tipikal heroine yang butuh dilindungi selain dilindungi dari ketakutannya naik pesawat. Sidonie berhasil menunjukkan pada pembaca bahwa tidak setiap wanita menilai laki-laki dari dompetnya seperti saya. Buktinya, ketika Christakos memberinya cek untuk melunasi hutang-hutangnya, Sidonie malah merasa diremehkan dan dilecehkan. Meskipun sebenarnya niat Christakos tidak jahat.

Dengan penggambaran yang bagus, Shion Hanyu dan Abby Green mampu membuat kisah cinta dengan awalan yang antimainstream dan memadukan kedua sifat yang bertolak belakang dari Christakos dan Sidonie menjadi satu plot yang memuaskan untuk dibaca dari awal sampai akhir.

Meskipun saya katakan satu seri saja sudah cukup, rasa-rasanya saya tetap akan melahap seri lainnya karena sepertinya tidak kalah seru dari yang satu ini.

Oh, sudahkah saya bilang bahwa saudara-saudara Christakos tidak kalah hot, mapan, tampan, dan rupawan?

Ulasan ditulis oleh : SUICCHON
Fb : Suitama (https://m.facebook.com/suicchon.suicchon.5)

Sorry. No data so far.