[Review] Rahasia Sang Malam

April 5, 2020 2:47 pm
[Review] Rahasia Sang Malam

Rahasia Sang Malam adalah sebuah komik shoujo karya Satsuki Abe yang diadaptasi dari novel ciptaan Ann Major dan diterbitkan oleh Harlequin. Namun sayangnya belum mendapatkan satu bintang pun, yang kemudian membuat saya penasaran seperti apa isi komik ini sebenarnya.

Seperti nama situs tempat komik ini diterbitkan, romancecomics.com, genre utama yang disodorkan adalah romance. Dibumbui dengan sedikit drama dan konflik yang membuat pembaca merasa terhubung dengan latar cerita maupun tokoh di dalamnya.

Mengisahkan dua tokoh utama, yakni seorang wanita cantik berambut pirang bernama Bree Oliver dan pria tampan kaya raya bernama Michael North. Berlatar di kota New York. Cerita ini diawali sebuah pembuka dengan suasana latar yang berbau agak dewasa, berujung Bree yang dicampakkan oleh Michael, disebabkan ketidaksukaan Michael kepada Bree yang mendekati adiknya, Will.

Michael serta-merta menuduh Bree mendekati Will hanya karena mengincar harta demi  modal bisnis bistro yang dikembangkan Bree. Tentu saja Bree menyangkal hal itu mati-matian dan berkata hubungannya dengan Will tak lebih dari sekedar teman. Michael, yang sepertinya telah menghadapi berbagai macam wanita licik dalam hidupnya, hanya tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Bree yang patah hati.

Setting waktu kemudian maju empat bulan kemudian, dimana sebuah adegan menunjukkan Bree yang terbaring terluka di ranjang rumah sakit. Orang pertama yang ia lihat tanpa diduga justru adalah Michael, pria yang mencampakkan dirinya beberapa bulan lalu. Hal ini kontan membuat Bree terkejut. Tidak cukup sampai di situ, seolah luka di badan Bree belum cukup, Michael menyampaikan sebuah kabar duka. Adiknya, Will dan seorang teman Bree, Tony, meninggal dunia. Mereka bertiga mengalami kecelakaan mobil dan hanya Bree yang berhasil selamat. Will sendiri telah menghembuskan napas terakhirnya beberapa saat sebelum Bree siuman, namun tidak lupa menitipkan sebuah wasiat pada sang kakak untuk menjaga isterinya, yang ternyata sedang hamil.

Mendengar kabar tersebut, sontak Bree tidak percaya, menganggap itu sebuah kebohongan. Pria berambut hitam yang juga anak tertua dan pewaris bisnis keluarga North di depannya itu pun hanya bisa memberikan konfirmasi bahwa Will dan Tony memang benar-benar tiada. Meski Michael berkata ia akan memenuhi wasiat adiknya untuk menjaga dan menghidupi Bree, namun asumsi bahwa Bree adalah seorang wanita pengeruk harta tidak lepas dari pikirannya. Ia masih dipenuhi kecurigaan.

Sementara itu, Bree yang nyatanya adalah seorang wanita baik-baik dan pekerja keras, pastinya tersinggung dengan tuduhan Michael yang tidak beralasan dan masuk akal. Ia mencoba memberontak demi harga dirinya, namun Michael memaksa dan mengatakan bahwa Bree tidak akan mampu mengurus dirinya sendiri di masa kehamilan yang berat. Kalah argument, tanpa disadari Bree sudah berada satu mobil dengan Michael. Dan lagi-lagi kebersamaan mereka berdua diselingi dengan perdebatan kecil.

Bree dibawa menuju kediaman Michael, sebuah penthouse super mewah yang juga ditinggali beberapa pelayan untuk mengurus kebutuhan sang majikan sehari-hari. Tidak ingin melewatkan kesempatan, Michael merengkuh pinggang Bree dan menciumnya paksa. Bree mencoba berontak, namun lama-lama ia pun luluh dan tenggelam dalam dekapan sang eksekutif muda, yang seharusnya masih memegang status kakak ipar bagi Bree.

Setelah melepas ciuman, Michael lantas berkata seolah Bree adalah wanita rendah yang menikahi adiknya tanpa didasari cinta. Karena jika tidak demikian, wanita pirang itu takkan membalas ciumannya. Bree pun menangis frustasi di kamarnya, menyesal sempat terbesit pikiran untuk memaafkan pria yang telah meremukkan hatinya. Namun sempat bernostalgia mengenang momen one night stand mereka yang bergairah dan menangisi foto suaminya semasa masih hidup bersama dengan Michael.

Michael sendiri sebenarnya sudah terpesona pada  Bree pada pandangan pertama, saat mereka diperkenalkan Will dalam sebuah pesta. Mereka juga sempat berbincang-bincang perihal Bistro Chez Z yang dikelola Bree sebagai owner sekaligus chef, setelah adiknya, Johnny Oliver yang meninggal seusai mendirikan tempat tersebut.

Tidak lama berselang, saat tengah membereskan barang-barang peninggalan Will, tanpa sengaja Michael menemukan CD berisi kumpulan foto-foto mesra Will bersama Tony. Mengungkapkan fakta bahwa sebenarnya Will adalah seorang gay. Terungkap juga kebenaran bagi Michael jika bayi yang dikandung Bree bukanlah anak Will, melainkan darah dagingnya sendiri. Bree adalah seorang virgin yang menyerahkan kehormatannya pada Michael dan hanya pada Michael seorang. Will tahu betul kepribadian kakaknya yang sulit mempercayai orang lain dan sukarela mengajukan diri menjadi pihak yang bertanggungjawab atas anak yang dikandung Bree.

Mengetahui kebenaran kejadian itu, Michael berubah sikap dan berusaha meluluhkan hati Bree. Ia bahkan sempat melamar Bree. Setiap hari mengirim bunga, minum kopi di bistro dan senantiasa berusaha menyenangkan hati Bree. Sampai di suatu titik, untuk kedua kalinya Michael kembali melamar Bree, namun Bree menanggapinya dengan dingin. Michael yang merasakan (karma) patah hati pun berjalan gontai meninggalkan Bree yang segera menyesal dan memanggilnya, namun tak diindahkan.

Hari demi hari berlalu. Bree menjalani kehidupannya dengan santai. Kebalikannya dengan Michael yang depresi hingga mengakibatkan dirinya menjadi kurus, kehilangan tubuh manly-nya. Didukung rekan-rekan sejawat, Bree mengumpulkan keberanian dan mengunjungi Michael di kediamannya.

Di sana lah Bree dan Michael jujur pada diri mereka dan satu sama lain bahwa mereka saling mencintai.

Beberapa lama setelahnya, Bree melahirkan seorang anak laki-laki. 

Mereka pun hidup bahagia.

Penilaian:

Cerita: 6.5 / 10

Ceritanya cukup ringan, ada bumbu dewasanya sedikit, romansa dan konfliknya cukup baik, cocok untuk pembaca yang menyukai komik shoujo yang ringan. Cukup dramatis. Inti dari plot cerita klasik dapat terkoneksi dengan pembaca sehingga pembaca dapat memahami situasi, kondisi dan perasaan para tokoh. Sayangnya alurnya saya rasa terlalu cepat dan tidak sempat ada proses pengembangan karakter yang ngena. Ceritanya sebenarnya masih bisa dikembangkan untuk meningkatkan rasa simpati pembaca pada tokoh-tokohnya. Predictable ending tapi cukup bisa dinikmati. Elemen kejutannya masih kurang, namun semua itu masih bisa dimaklumi karena ini one shot (tapi momen saat Will ketahuan gay adalah yang paling ikonik menurut saya dan plot twist). Happy Ending adalah jiwa dari komik shoujo, yeah!

Gambar: 7.5 / 10

Gambarnya sangat manis, terutama ketika visualisasi romansa di antara kedua tokoh utama, membuat hati saya doki-doki seperti sedang membaca sebuah komik serial cantik. Tapi sayangnya cerita ini tidak cocok untuk anak-anak maupun remaja di bawah umur karena ada visualisasi momen dewasa.

Terjemahan: 8 / 10

Menurut saya terjemahannya sudah cukup baik dan sederhana sehingga mudah dipahami pembaca.

Untuk keseluruhan, saya memberi nilai 7. Ada beberapa bagian yang tidak saya tulis di sini dan itu saya serahkan sebagai kejutan untuk anda biar tambah penasaran hahahaha. Selamat membaca dan semoga review ini bermanfaat.