[Review] Bagaikan Pelangi Setelah Badai

April 6, 2020 6:37 pm
[Review] Bagaikan Pelangi Setelah Badai

Sebelum memulai review kali ini, saya harus memulai dengan menjelaskan kenapa sekarang saya yang menulis review kali ini. Basically, setelah mengirimkan email kepada 30 orang terpilih pertama yang mengerjakan review, hanya 24 orang yang kembali menghubungi Jurnal Otaku bahkan setelah semua email yang kami kirimkan. Di antaranya pun masih ada yang berstatus delayed jadi mau tidak mau kami harus mengisi slot daily review so I hope that clear things up.

Kalau sebelum ini ada yang bilang kalau membaca komik dari Harlequin Comics rasanya sama seperti menonton sinetron, mungkin saya tidak akan percaya. Karena secara fundamental membaca komik dan menonton TV itu sangat jauh berbeda. Tapi setelah membaca seri Harlequin saya actually impressed, memang terasa seperti menonton sinetron, and not in a bad way. Karena seperti yang saya pernah bicarakan, I do unironically likes drama so this works out quite well.

Buku yang akan saya review kali ini berjudul Bagaikan Pelangi Setelah Badai, buku ini berasal dari novel yang ditulis oleh Jennie Lucas dengan adaptasi komik yang digambar oleh Hibiki Sakuraya. Kenapa saya memilih buku ini untuk di-review, alasannya cukup simpel. Saya menyukai cover depan dari buku ini, gambarnya tegas and not too shoujo-ey if you can catch my drift. Hibiki Sakuraya mungkin salah satu artis favorit saya dari Harlequin Comics dan saya masih akan membahas satu lagi komik beliau so stay tune ya.

Cerita Bagaikan Pelangi Setelah Badai dimulai dengan monolog dari pemeran utama, pria Theo st Raphael, seorang bangsawan Perancis yang super kaya dengan sebuah kastil sebagai rumah. Dalam monolognya, buku ini menggambarkan Theo sebagai seorang pria yang broken home dan tidak mempercayai cinta antara 2 orang pria dan wanita. Saat dia kecil, sepertinya orang tuanya sering bertengkar dan bercerai, karena itu dia tidak ingin ada cinta di dalam dirinya. Quite edgy I must say.

Theo kemudian menerbangkan Carrie, seorang pelayan restoran yang ditemuinya di Seattle. Carrie jatuh cinta kepada Theo karena menganggap Theo sebagai sosok pangeran idaman. Apa lagi Theo-lah yang pertama kali mengajaknya berkencan, jadi tentu Carrie memiliki harapan untuknya. Tapi Theo hanya punya 1 aturan, yaitu tidak boleh ada cinta di antara mereka berdua, Carrie yang sudah bucin sama Theo tidak ingin berbohong dengan perasaannya, namun bila dia ingin terus bersama Theo, Carrie terpaksa menyetujui syarat tersebut.

Suatu malam, saat keduanya sedang berada di ranjang, Carrie keceplosan dan berkata “Theo, aku mencintaimu” yang kemudian tidak dibalas apa-apa oleh Theo. Theo kemudian beranjak memakai bajunya, dan meninggalkan Carrie sendirian sambil berkata, “Aku tidak butuh cinta“.

And here I am reading like, dude, what breakfast did you ate that makes you this edgy.

Theo kemudian menghilang dari hidup Carrie yang ternyata hamil (shock.jpg) anak mereka yang bernama Henry. Selama setahun Carrie mencoba menghubungi Theo lewat SMS maupun email, tapi semua usaha itu tidak berbalas. Sampai suatu hari Theo menghubunginya untuk ke Perancis menemui dirinya, Carrie kemudian menyetujui undangan tersebut dengan harapan Theo ingin menemui Henry, anak mereka.

Tapi ternyata Theo cuma sange karena menurutnya dia tidak nafsu lagi berhubungan dengan wanita lain dan hanya ada Carrie di pikirannya. This is stupid, I heard a voice in the back of my head saying that as I continue to read.

Carrie yang kaget mendengar tujuan Theo tidak bisa menahan keterkejutannya, yang kemudian terbalas dengan ketekejutan Theo saat mengetahui kalau Carrie dan dia punya anak. Saat Theo membalas bagaimana Carrie yakin kalau itu adalah anak mereka, Carrie hanya bisa tersipu saat menjawab kalau dia tidak pernah menghubungi lelaki lain selain Theo, that’s cute.

Bagaikan Pelangi Setelah Badai adalah sebuah cerita tentang kesalahpahaman di antara dua orang pria dan wanita. Keduanya tertambat oleh ego dan perasaan masing-masing sehingga keduanya lupa cara untuk berkomunikasi dengan efektif, which is actually realistic.

Theo st Raphael

Theo adalah seorang pria kaya yang biasa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan uang, tapi dia tidak bisa mempercayai kata cinta. Menurutnya kata cinta hanya akan mengganggu kondisi mental seseorang. Karena itu dia tidak bisa memahami perasaan yang dimilikinya kepada Carrie, bagaimana dia jatuh ke dalam kegalauan saat tidak bisa bersama dengan wanita yang dicintainya tersebut. Pengusaha kaya ini sampai salah membeli perusahaan cuma gara-gara galau ngebucin.

Tidak mengenal cinta juga membuatnya tidak sensitif terhadap perasaan orang lain, dia menganggap Carrie hanya menginginkan harta dan posisi Theo dengan membawa anak mereka, Henry. Namun dia sendiri tidak mengerti kalau bucinnya dia saat ini itu dikarenakan rasa kehilangan akan Carrie.

Carrie

Carrie adalah seorang wanita biasa, pelayan yang ditemui Theo di restoran di Seattle namun mampu menangkap hati sang jutawan. Dia mendambakan seorang pangeran idaman sebagai pasangannya dan menurutnya Theo adalah pria yang cocok dengan deskripsi itu, tapi sayang dia adalah pria yang cukup sulit. Namun Carrie tahu dalam dirinya kalau dia masih mencintai Theo, karena itu Carrie setuju untuk pergi ke Perancis untuk menemuinya.

Dalam pikiran saya, Carrie adalah sosok perempuan yang kuat. karena dia berani untuk mempertahankan Henry sambil mengerjakan pekerjaannya sebagai pelayan. Bahkan di tempat kerjanya yang membayarnya pas-pasan juga dia masih bisa mendapat cuti hamil which going by that logic it shouldn’t be possible but what the heck. Perjuangannya membesarkan Henry melambangkan rasa cinta seorang ibu yang tak terbalaskan kepada anaknya.

In a way, Carrie pun salah paham mengenai Theo, karena menurutnya Theo hanya bermain-main saja dengan perasaannya, dia tidak bisa mempercayai kalau Theo bisa mencintai dia dan Henry seperti layaknya seorang bapak. Beberapa kali dia menolak tawaran Theo untuk menikah sampai pada akhirnya Theo yang harus berbohong kepada Carrie dan dirinya sendiri dengan mengatakan kalau dia cinta kepadanya yang kemudian akan menjadi Badai sebelum pernikahan mereka berlangsung.

Untungnya, Bagaikan Pelangi Setelah Badai adalah cerita cinta yang santai dan straight forward, tidak ada pihak ketiga untuk merusak hubungan dan membuat masalahnya lebih rumit lagi. Cerita ini sangat cocok dibaca sambil bersantai, karena walaupun beberapa konfliknya bakal bikin kamu agak gregetan sama kelakuan Theo yang nggak sadar-sadar sama perasaannya sendiri, but it ends on a really sweet note.

Tertarik untuk membaca Bagaikan Pelangi Setelah Badai? Kamu bisa langsung membacanya di situs Romance Comics dengan menggunakan tautan berikut ini: https://www.romancecomics.com/book/comic/id/hqlci00235#