[Review] Oshi ga Budoukan Ittekuretara Shinu

April 8, 2020 12:56 pm
[Review] Oshi ga Budoukan Ittekuretara Shinu

Di setiap musim penayangan anime pasti ada yang ramai dan ada yang underrated. Kali ini JOI akan membahas salah satu anime keluaran musim dingin 2020. Anime yang bakal dibahas kali ini cukup underrated, yang berjudul Oshi ga Budoukan Ittekuretara Shinu.

Oshibudo (singkatan yang diberikan kepada serial ini) adalah anime buatan studio 8bit yang tayang sejak 10 Januari hingga 27 Maret. Anime ini merupakan adaptasi manga Hirao Auri yang diterbitkan Comic Ryu sejak Juni 2015.

Meski terbilang underrated, bukan berarti anime ini ampas. Anime ini sebenarnya memiliki unsur yang tidak dimiliki oleh anime bertema idol pada umumnya. Hal ini bakal menjadi pembahasan dari review saya kali ini.

We Got Unique View From Idol Genre Here

Oshibudo boleh dibilang memiliki keunikan yang menjadi ciri khasnya tersendiri. Kebanyakan anime bertema idol biasanya fokus bagaimana konflik dari antar idol tersebut, bagaimana industri ini berjalan di balik layar, dan semacamnya. Disini Oshibudo berhasil memberikan kejutan bagi saya mulai menontonnya di pertengahan musim. Ya, ini adalah fase dimana kamu membuang beberapa judul anime yang tidak cocok dengan seleramu dan memungut judul yang bisa membuat gebrakan bukan berdasarkan sampulnya.

Oshibudo berfokus kepada Eripiyo seorang fans dari grup idol ChamJam. Eripiyo begitu mengidolakan salah satu membernya yang bernama Maina, yang merupakan idol yang fansnya paling sedikit. Usaha Eripiyo ini bukanlah kacangan. Ia rela kerja mati-matian demi memenuhi hasratnya untuk mendukung idola, hingga hanya baju olahraga semata wayang yang bisa dipakainya sehari-hari. Menemani Eripiyo ada dua wota lainnya yang bernama Kumasa dan Motoi.

Wota yang merupakan kumpulan penggemar idol, menjadi sorotan utama dalam anime ini.

Tentunya ini adalah poin unik yang dimiliki anime ini. Belum pernah saya lihat ada serial yang membahas dari sisi wotanya (jika ada tolong beritahu saya). Penggambaran wotanya juga terus terang, ga cakep-cakep amet. Kumasa digambarkan sebagai pria yang gemuk, Eripiyo adalah wanita yang fanatik dalam mendukung Maina, Motoi adalah pria yang canggung.

Gambaran yang pertama kali saya lihat ini (karena saya bukanlah wota) membuat saya rada speechless untuk membahas kedalaman animenya. Setidaknya melalui anime ini saya melihat etika dalam mendukung idol dan cara pandang idol memandang para fansnya. Kedua subjek ini saling melengkapi dalam hubungan yang tidak bisa berjalan sendiri. Inilah sisi dunia idol yang perlu kita saksikan.

Bicara soal etika, inilah yang bikin saya terpukau. Eripiyo pun yang saking maniaknya bisa tahu diri kalau dalam event handshake ada batas waktu yang harus dihargai, atau percakapan yang masih dalam kaidah kewajaran antar idol dan fans. Transfer perasaan dari fans ke idol dan sebaliknya begitu terasa tanpa perilaku barbar yang bisa merusak citra idol tersebut.

Hear The Ai Fairouz’s Glorious Voice

Menjadi poin plus utama kedua adalah dari sisi seiyuu. Ai Fairouz kembali mendapat jatah pemeran utama untuk sebuah anime setelah debutnya menjadi Hibiki di anime Dumbell Nan Kilo Moteru. Suara dari seiyuu yang bukan 100 persen nihonjin ini bisa membuat saya lebih terpukau. Bisa saya tegaskan, penampilan seiyuu terbaik musim dingin jatuh kepadanya. Tidak heran juga dia mendapat penghargaan rookie of the year tahun 2019 kemarin dengan range suaranya yang memukau.

Memerankan Eripiyo yang maniak fans Maina, membuatnya harus berteriak merusak tenggorakannya sendiri (hal ini benar-benar terjadi di animenya: Eripiyo merusak tenggorakkannya sampai sulit berbicara). Dari teriakan konyol, gaya bicara yang berubah-ubah, hingga suara strugglingnya bisa diperankan dengan sempurna oleh Ai.

Mengisi suara untuk karakter segokil ini dibutuhkan lebih dari sekedar bakat, dan Ai Fairouz berhasil memerankannya dengan sempurna

Ditambah lagi Ai Fairouz juga menyanyikan lagu penutupnya dengan sangat baik. Suaranya halus membuat anime idol ini berhasil mendapat nilai tinggi dari segi audio untuk saya. Lagu pembuka yang dinyanyikan ChamJam juga bisa mengimbangi, memberikan efek ‘terbang diatas awan yang lembut’ bagi pendengarnya. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan mengingat ada tangan dari Aketagawa Jin (Toaru Series, Shigatsu wa Kimi no Uso, Re:Creators, Gochiusa, dan masih banyak lagi) sebagai sound director untuk anime ini.

Verdict: It is an Idol but not an Idol

Kekurangan yang dimiliki anime ini mungkin hanya di aspek visual. Semua member di ChamJam sekilas terlihat hampir mirip semua, berasa hanya berbeda dari rambut dan warna matanya. Selebihnya, aspek lainnya di anime ini sudah disajikan sangat baik.

Member ChamJam terlihat begitu mirip meskipun mereka bukan kembar

Anime ini terus mengumandangkan apa makna dari title-nya secara konsisten. Meskipun belum bisa mencapai Budoukan, anime ini mendapat penutupan yang hangat. Sekuel mungkin sangatlah sulit untuk underdog seperti Oshibudo, namun tidak salahnya berharap untuk salah satu anime yang sangat menghibur ini.

Anime ini berhasil menyulap persepsi mengenai dunia idol dengan keunikan yang dimilikinya. Anime idol yang bukan idol, julukan yang aneh namun tepat untuk anime satu ini. Oshibudo sangatlah layak untuk ditonton untuk hampir semua kalangan terutama yang menyukai cerita ringan dan unik anti mainstream. Terima kasih untuk Oshibudo yang membuat saya sadar betapa indahnya warna salmon pink itu.

Story: 10/10 (good intro and closure in every episode; new unique concept for idol anime)

Characters: 9/10 (fokusnya berat kepada Eripiyo-Maina digambarkan baik, namun beberapa karakter kekurangan nutrisi untuk perkembangannya)

Visual: 6/10 (minusnya sudah dijelaskan diatas)

Audio: 9/10 (Ai Fairouz buff this score)

Enjoyment: 10/10 (Berasa ngelihat cerita temen wota sendiri)

Overall: 8.8/10