Survey Menyelidiki Berapa Lama Penduduk Jepang Bisa Bertahan dalam Karantina

April 20, 2020 4:44 pm
Survey Menyelidiki Berapa Lama Penduduk Jepang Bisa Bertahan dalam Karantina

Situasi darurat sudah ditetapkan di penjuru Jepang. Hanya saja perintah lockdown masih sifatnya sukarela. Bisa saja pemerintah di sana percaya dengan kedisiplinan warganya atau ada juga kesadaran kalau lockdown resmi akan mematikan ekonomi Jepang yang sudah sangat berisiko masuk resesi. Kalaupun asumsi yang pertama itu tepat, tentu saja ada pertanyaan berapa lama penduduk sana mampu mengkarantina diri.

Perusahaan Jepang Nomura Securities Co., menjalankan survei berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor kabinet Jepang: “mengkarantina sendiri “selama mungkin” untuk membatasi penyebaran virus menular COVID-19. Meskipun pengurangan pada aktivitas luar sudah terlihat, ada juga keraguan mengenai berapa lama orang dapat menahan diri untuk tidak keluar dan berkumpul. Pada 14 April, Nomura Societies merilis analisis datanya.

Menarik dari 1.473 reponden mengenai berapa lama mereka merasa mampu mengkarantina diri untuk mencegah penyebaran COVID-19, jumlah terbesar – 36,9 persen – merespons “sekitar satu minggu”, dengan 18,9 persen mengklaim bahwa mereka dapat bertahan selama dua minggu penuh. Persentase tertinggi berikutnya, 15,4 persen, adalah bagi mereka yang merasa mampu bertahan terisolasi hanya selama dua atau tiga hari.

Nomura Societies memberikan rata-rata tertimbang untuk demografi yang berusia lebih dari 18 tahun survei: rata-rata peserta survei dapat bertahan 14,4 hari karantina di dalam rumah tanpa kontak fisik dengan dunia luar. Rata-rata ini terbagi dalam beberapa cara menarik ketika diinterogasi berdasarkan usia: mereka yang berusia 40-an rata-rata hanya 12 hari, sedangkan penerima yang berusia 70-an rata-rata 18 hari.

Karena pengembangan COVID-19 tidak pasti, dan social distancing mungkin diperlukan hingga setidaknya 2022 dalam skenario terburuk, informasi ini dapat membantu ketika menerapkan layanan untuk menjaga kesehatan mental, tingkat olahraga dan struktur harian umum selama periode isolasi. Penting untuk diingat bahwa banyak orang, terutama orang tua, orang cacat, atau individu yang ditahan di rumah, sudah harus tinggal di dalam rumah untuk waktu yang lama dan telah mengembangkan kebiasaan dan rutinitas untuk terus bertahan. Dan betapapun sulit rasanya tinggal di rumah, Setidaknya ini dilakukan untuk membantu menjaga keamanan masyarakat.

Sumber: Soranews