Potensi Perceraian di Jepang Meningkat Akibat Sistem Bekerja dari Rumah

April 21, 2020 6:00 pm
Potensi Perceraian di Jepang Meningkat Akibat Sistem Bekerja dari Rumah

Dampak dari coronavirus di Jepang memang sangat masif, terutama bagi para pekerja kantoran disana. Penerapan WFH atau Work From Home membuat para pekerja ini harus beradaptasi kembali dengan pekerjaannya yang dilakukan dari kediaman masing-masing. Anggota keluarga yang biasanya hanya ditemui saat akhir pekan atau waktu istirahat, kini semakin konstan bertemu setiap harinya. Begitu juga dengan suami istri ataupun pasangan tinggal satu rumah.

Atsuko Okano, peneliti dari masalah pernikahan di Jepang, menemukan naiknya tren perpisahan dari pasangan suami istri akhir-akhir ini. Ia menjelaskan bahwa, “Saat penyebaran masalah sosial terjadi, hubungan yang stabil pada fase sebelumnya dapat berkembang ke arah yang tak terduga”. Tak hanya menggunakan variabel COVID-19, ia juga menemukan fenomena yang sama dengan peristiwa Gempa Besar dan Tsunami Tohoku pada tahun 2011.

Itami dan Risa dari serial GATE

Eiko, seorang ibu rumah tangga yang juga memiliki pekerjaan IT secara remote, mengalami fenomena ini saat wabah COVID-19 menghantui. Suaminya yang diperintahkan perusahaan untuk bekerja dari rumah, mulai menguasai ruangan keluarga untuk dijadikan tempat bekerja. Eiko yang sering menggunakan tempat tersebut untuk bekerja juga mulai kesal dan sulit beradaptasi dengan suasana baru ini. “Ia selalu bertingkah seperti pekerjaannya yang paling penting”, keluh Eiko. Masalah kemudian muncul lagi dalam urusan masak. Saat suaminya mencoba untuk membuat makan siang sendiri, ia dicecar pertanyaan-pertanyaan seperti, “Dimana teflonnya?”, “Seberapa besar aku harus memotong sayur ini?” dan masih banyak lagi. Jika tak tertahankan lagi, ia mengakui bisa saja mereka berpisah di masa depan.

Baru-baru ini juga di ranah Twitter Jepang, terdapat tagar #コロナ離婚 atau #CoronaDivorce yang kian populer dibicarakan. Beberapa twit penggunanya mengungkapkan keinginan mereka untuk benar-benar bercerai, namun ada juga yang menganggap keinginan mereka hanyalah secara sementara demi mengurangi rasa frustasi.

“Mengenai tren perceraian corona, suamiku kini tengah bekerja secara jarak jauh. Jika harus melakukannya juga, kami tidak akan memiliki waktu personal. Ini akan sulit jika selalu bersama 24/7 selama sebulan penuh.”

“Saya sering melihat laki-laki yang diperintahkan untuk bekerja secara jarak jauh yang menulis ‘Istriku marah kepadaku walaupun aku tidak melakukan apa-apa.’ Tidakkah kau mengerti semuanya! Istrimu marah itu karena kamu TIDAK melakukan apa-apa.”

Tak lepas dari kekesalan tersebut, banyak pengguna Twitter yang menyatakan bahwa ini Golden Week tahun ini menjadi yang paling buruk semasa hidup mereka. Namun ada juga yang merasa beruntung bahwa mereka dapat menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang yang mereka sayangi setelah di fase sebelumnya selalu terganggu oleh pekerjaannya.

Gaya kehidupan di tengah wabah ini berdampak besar terhadap hubungan pasangan suami istri ataupun bagi mereka yang hanya pacaran, atau tanpa status. Semakin banyak waktu yang didapatkan untuk dihabiskan bersama pasangan, semakin terlihat keburukan dari masing-masing pihak. Tentunya sebelum menjalin hubungan seharusnya mereka mengenal satu sama lain secara intim terlebih dahulu. Apakah dengan masalah tersebut menunjukan bahwa banyak pasutri dan yang masih berpacaran ternyata tidak mengenali pasangan masing-masing secara lebih dekat? Menarik untuk dibahas lebih luas.

Oiya, semoga kalian yang sudah berkeluarga atau masih tahap pacaran maupun pendekatan tidak terkena dampak negatif dari wabah ini ya. Semoga lancar hingga pandemi ini mereda.

Baca juga: Survey Menyelidiki Berapa Lama Penduduk Jepang Bisa Bertahan dalam Karantina

Sumber: Grapee