[Review] Hachi-nantte, Sore wa Nai Deshou!

July 7, 2020 5:39 pm
[Review] Hachi-nantte, Sore wa Nai Deshou!

Selamat datang kembali dalam rubrik Review Jurnal Otaku Indonesia. Setelah musim semi resmi ditutup minggu kemarin, kali ini kami memulai untuk membuat ulasan beberapa anime musim semi yang dirasa perlu untuk dibahas lebih jauh. Untuk edisi kali ini, saya akan mengulas adaptasi anime Hachi-nantte, Sore wa Nai Deshou!“.

Hachi-nantte, Sore wa Nai Deshou!” merupakan serial novel daring yang ditulis oleh Y.A. di situs Shousetsuka ni Narou sejak Juni 2013. Novel daring ini kemudian resmi ditamatkan pada Maret 2017. Sebelum itu, Media Factory melisensi novel daring ini untuk diterbitkan menjadi novel ringan fisik dan digital. Mereka menggunakan label MF Books sebagai penerbitnya, dan Fuzichoco ditunjuk sebagai ilustratornya. Volume pertamanya diterbitkan pada 25 April 2014 dan hingga kini telah berjalan hingga volume ke-19. Novel ini juga berhasil terjual hingga 2,5 juta eksemplar dalam penjualan fisik dan digitalnya.

Novel Hachinantte Sore wa Nai Deshou! menceritakan Shingo Ichinomiya, seorang karyawan biasa di perusahaan dagang. Suatu hari ia terbangun dan menemukan dirinya menempati tubuh dari Wendelin – bocah berusia 5 tahun, dan anak ke-8 dari keluarga bangsawan yang melarat di dunia fantasi.

Tatsuo Miura (Kaiketsu Zorori) menjadi sutradara serial anime ini. Fuzichoco menjadi desainer karakter orisinal, dan Keiji Tanabe (Caligula) mengadaptasi desainnya untuk animasi. Takeshi iyamoto (Fullmetal Alchemist liveaction) akan menangani komposisi serinya. Studio Shin-Ei Animation dan Synergy SP yang akan mengerjakan animasinya.

Baca juga : [Review] Promare

Selesai sudah pengenalannya, mari kita masuk ke sesi impresinya!

Okay Starter, Slump into Abyss Afterwards

Ada hal yang menarik bagi saya pada edisi pre-air anime Hachi-nantte, Sore wa Nai Deshou!“. Bermula dari melihat profil proyek anime yang digarap dua studio, Shin-ei Animation dan Synergy SP yang membuat saya sedikit optimis dengan adaptasinya. Kemudian pre-air-nya tayang, dengan kualitas animasi yang cukup mengejutkan. Merasa sedikit lega dengan itu, kemudian satu aspek yang dirasa mengganggu benak saya muncul. Pengarahan animasinya terlihat kaku, ditambah dengan dialog antar karakternya yang seperti saling menunggu satu sama lain. Kurang naturalnya dialog disini juga banyak membuat netizen di Twitter mempertanyakan kualitas pengarahan dari sutradaranya. Paling tidak ada yang satu suara dengan saya.

Di episode-episode Hachi-nantte berikutnya, masalah tersebut makin memburuk. Seolah yang membuat performa pengerjaannya menurun disini adalah pengarahan dialognya. Namun saya yakin ada hal yang lebih krusial dari hal tersebut, terutama dari komite produksinya. Berlanjut, penulisan skenarionya saya anggap “tidak adil” bagi cerita utama novelnya. Banyak material penting yang dibuang percuma dan ini tentunya memunculkan sentimen dari para penontonnya, termasuk saya. Apakah ini akan menjadi “Arifureta 2.0“? Saya pikir adaptasi yang itu lebih baik dari ini.

Baca juga: [Review] A Whisker Away

Adegan pertarungan. Adalah hal yang mereka lupakan dari adaptasi ini. 80% konflik dalam sifat friksi pertarungan di anime ini hanyalah latihan party dari Wendelin. 80% itu juga porsinya sangat sedikit dibanding masalah domestik yang dibahas dalam adaptasi ini. Tentu saja kita harus menilik volume terawal novel ringannya yang sebenarnya memiliki banyak konflik dalam bentuk pertarungan. Salah satu kekecewaan saya yang masih sulit untuk dilepaskan dari adaptasi ini.

Pengecapan Definisi “Asal Jadi”

Mengesampingkan kualitas tersebut, saya coba menggali rekam jejak sutradara utamanya, Miura Tatsuo. Ternyata adaptasi anime Hachi-nantte merupakan debut baginya sebagai sutradara, dan ini tentunya membuat rasa penasaran saya terjawab sudah. Munculah ide, “Baiklah, mari menurunkan ekspektasi ini hingga serendah mungkin”. Namun sayangnya hal tersebut juga dibarengi dengan pemikiran bahwa proyek anime ini dianggap “asal jadi” saja.

Saya gak bisa menampik ide itu sempat memenuhi kepala saya saat menonton setiap episode setiap minggunya. Hingga di titik episode ke-11, dimana salah satu anggota Discord Jurnal Otaku Indonesia yang juga pembaca setia JOI mengabarkan saya bahwa episode tersebut seperti berubah dari sebelum-sebelumnya. Ia tidak salah, episode 11 merupakan episode terbaik dari adaptasi ini. Semua masalah yang saya sebut di paragraf-paragraf sebelumnya itu menghilang. Hingga datanglah episode terakhir, dan saya hanya bisa bereaksi marah-marah sendiri. Tak bisa mengungkapkan kekecewaan saya lebih dari itu. Ya paling tidak Elize, Iina, Vilma, dan Louise bisa jadi pelipur lara.

Hachi-nantte

Tak hanya saya, Blue Heaven juga meninggalkan beberapa paragraf untuk mengekspresikan kebahagiaannya.

Baca juga: [Review] Brand New Animal

Blue Heaven

Hachinan adalah serial yang saya tonton tidak sejak dari awal musim melainkan di mendekati pertengahan musim. Maklum posternya yang kurang menarik dan saya mulai mengurangi jatah musiman anime yang ditonton membuat anime ini tidak dinotis langsung oleh saya. Bait dari meme yang bertebaranlah yang menarik saya untuk mencoba anime ini. Sangka saya, dengan material meme yang banyak bermunculan, anime ini menyimpan potensi yang tak kasat mata.

Pembukanya cukup menarik. Lahir sebagai anak kedelapan, hidup di daerah sulit meski statusnya bangsawan, saya kira ini adalah isekai yang beda dari format generik pada umumnya. Dan tentu saja menemukan isekai tanpa cheating adalah barang langka yang tidak bisa saya temukan dalam anime ini.

Hachi-nantte

Story yang dimiliki Hachi-nantte sebenarnya cukup baik. Ada konflik politik dan potensial waifu baik dari Elise maupun Amalie membuat saya cukup bisa tahan menonton seluruh episode kali ini. Namun semua visi itu hanyalah harapan sia-sia.

Bisa saya katakan ini adalah sampah yang hanya membuat penonton muak ingin memuntahkan kembali sarapan paginya. Directing yang sangat tidak rapi, memotong banyak potensial scene untuk memperlebar kesan harem yang sama sekali tidak sekelas harem pada normalnya, dan pertarungan yang tanpa ada nyawa membuat saya berpikir: “Why am I still here?”

Benar-benar torture yang dahsyat dilancarkan melalui tiap scene-nya yang tak berguna. Semua karakter juga tampil bodoh. Masih mending kalau ini anime komedi, namun genre dari anime ini sangat tidak terlihat karena ciri khasnya yang minim. Potensi yang dimiliki benar-benarnya hampa dengan adaptasi amatiran yang gerak animasinya saja tidak karuan.

Hachi-nantte

Belum lagi kalau kamu mendengar musik yang ditampilkan. Salah satu yang terburuk dari sekian banyak anime dalam sepuluh tahun terakhir yang masuk ke kuping saya. Apalagi ketika gema opening diputar di bagian klimaks yang tidak ada rasa pucuknya, ga nolong malah bikin tambah parah. Kehadiran AKINO from Bless4 yang sudah tenar dalam lagu ending juga menjadi super dingin. Yang namanya duet kalau gabisa sinkron mending gausah nyanyi bareng. Tolonglah momen karaoke jangan dibawa ke final record anime. Komposernya sangat mengerti cara membuat lagu terburuk dari artis ternama.

Baca juga: [Review] Oshi ga Budoukan Ittekuretara Shinu

Selamat untuk semua staf yang bekerja kecuali seiyuu-nya yang masih bisa menyajikan akting suara yang terjaga kualitasnya karena anime ini merupakan salah satu yang terampas yang berhasil saya selesaikan seluruh episodenya.

Baiklah mungkin itu saja ulasan atau review dari kami. Saya tak bisa menyarankan kalian untuk menonton adaptasi ini. Namun jika kalian malah makin penasaran, saya sarankan untuk menyiapkan kepala dingin terlebih dahulu sebelum mulai menontonnya. Atau kalian bisa membaca [3 Episode Rule]-nya terlebih dahulu. Terima kasih, jangan lupa saran dan komentarnya ya!