[Review] Honzuki no Gekokujou Season 2

July 16, 2020 7:06 pm
[Review] Honzuki no Gekokujou Season 2

Summer mungkin sudah tiba, dan spring season keberadaannya cepat tergantikan karena minimnya atmosfir anime berkat banyaknya judul yang menarik diri di pertengahan musim. Meski demikian, ternyata musim semi tetaplah musim semi. Ada beberapa anime yang benar-benar tidak terduga bermekaran ditengah tandusnya musim ini. Dan anime yang akan direview kali ini adalah salah satu mutiara langka yang sayang buat kamu lewatkan.

Honzuki no Gekokujou: Shisho ni Naru Tame ni wa Shudan wo Erandeiraremasen/Ascendance of a Bookworm atau yang disingkat Honzuki merupakan adaptasi anime dari light novel yang ditulis oleh Kazuki Miya dan digambar oleh Shiina You. Anime ini bercerita tentang bagaimana Urano Motosu yang mencintai buku bereinkarnasi menjadi Main/Maine/Myne (who cares at least her moji is マイン) di dunia yang keberadaan buku sangatlah langka serta keadaan tubuh dan keluarganya kurang menguntungkan. Perjuangannya yang sangat gigih dan penuh tantangan menjadi hal yang paling menarik untuk disaksikan dari serial ini.

Sejak kemunculannya dari musim pertama, Honzuki terlihat sulit terangkat karena banyaknya anime populer lainnya yang mengalahkan popularitasnya. Sebenarnya kalau kita telusuri, light novel Honzuki termasuk yang paling diminati dan bisa bersanding di peringkat atas ‘Kono Light Novel ga Sugoi!’ selama tiga tahun terakhir. Di musim ini, anime Honzuki melanjutkan ceritanya ke bagian keduanya setelah merilis OVA episode yang juga sangat menghibur.

Karena yang musim pertama belum pernah ditulis di JOI, maka review ini akan memuat sebagian pembahasan dari season pertama.

It is more bookworm than you think

Sebenarnya saya kontra dengan penggunaan nama bookworm untuk judul inggris serial ini. Kata yang lebih tepat untuk menggambarkan Main (idk I just use this name as the closest one from her katakana) adalah Bibliophilia. Main memang sangat mencintai buku. Namun dia hanya sekedar suka sehingga tidak membuatnya cerdas seperti kutu buku umumnya.

Honzuki dalam ceritanya berfokus pada Main yang sangat menyukai buku ini. Plot yang disajikan begitu pelan namun terarah. Mulai dari Main mengetahui kebenaran bahwa dunia yang ditempatinya tidak memiliki banyak buku beredar, kemudian dia berusaha mencarinya, sedapatnya satu buku yang langka ternyata bukan buat dibaca menyentuhnya pun dia tak kuasa. Main pun memutuskan untuk membuat buku sendiri dari nol berdasarkan pengetahuan seadanya dari kehidupan sebelumnya. Inilah yang menjadi fokus season pertama.

Slow Pace untuk kualitas terbaik

Perjalanan Main mendapatkan buku impiannya tidaklah semudah yang dibayangkan. Yap, walaupun ini serial isekai dan Main sudah melakukan banyak cara untuk membuat buku. Dengan keterbasan fisik dan keluarga Main mencoba melawan nasibnya dan sampai musim pertama animenya masih belum berhasil juga. Berdasarkan tulisan ini, mungkin kamu menganggap kalau slow pace ini hanya membosankan, namun ternyata kalau mau disimak anime ini masih enak diikuti.

Sudah jarang ada anime yang mengutamakan cerita dibangun perlahan-lahan tanpa kebut serabutan. Kebanyakan hanya mengutamakan bagaimana anime ini bisa kelar dalam kurun waktu 12 episode sehingga banyak scene yang dicut tanpa ampun. Apalagi kalau animenya isekai, banyak sekali cut scene yang membuat story dalam animenya kadang kurang jelas.

honzuki

Dan mereka masih sempat ngelawak dengan selingan seperti ini. Low budget but effective.

Honzuki walau saat dirilis animenya cerita sudah lumayan jauh namun pihak produksi tidak mau menyia-nyiakan bahan untuk dibuang tanpa dibuatkan animasinya. Inilah yang menjadi daya tarik unik Honzuki yang membuatnya masih dibatas ambang popularitas anime namun kualitas tetap terjaga.

Dengan tempo yang tidak tergesa-gesa, Honzuki mampu menampilkan tontonan yang membuat otakmu tidak perlu kepanasan. Apalagi nama karakternya tidaklah ribet, hanya satu nama saja tidak ada marga dengan nama super panjang, ya mesti Main masih kontroversial penyebutan nama aslinya.

Perbandingan dengan season pertama

Di season kedua pace terlihat lebih cepat. Kalau musim pertama membahas masa sulit Main ketika awal membuat buku, kini Main telah menjadi pendeta magang di gereja. Disini karakter Main lebih berkembang dan terlihat effortnya untuk orang lain karena season pertama lebih fokus kepada dirinya sendiri.

Otomatis ada banyak karakter baru unlocked dikarenakan scopenya sudah diperluas. Di musim pertama Main fokus di kegiatan perdagangan dengan ajaran Benno, musim kedua Main lebih menghabiskan banyak waktu belajar tata cara sesuai tempat magangnya dibawah komando Ferdinand. Ferdinand ini pun baru diketahui namanya di bagian akhir season kedua, sebelumnya Main selalu memanggilnya dengan sebutan kepala pendeta.

honzuki

Rosina is the best new character in this season. You can’t change my mind.

Walau memiliki banyak perbedaan, namun transisinya antar season terlihat begitu smooth. Meski ada beberapa karakter yang mulai berkurang scenenya namun mereka tetap memiliki partisipasi dalam musim keduanya. Musim keduanya pun sudah menyiapkan jalan untuk musim ketiganya. Saya sempat was-was karena dalam waktu sekitar 2 minggu setelah animenya selesai belum ada pengumuman season ketiganya, namun sekarang sudah terjawab bahwa Honzuki masih akan berlanjut ke musim ketiga.

Verdict: I told you, “This type appears only once in this decade.”

Honzuki season kedua kembali membuat saya terpukau dengan plot yang sangat menghipnotis untuk diikuti. Biasanya kalau saya marathon anime bakal ga kuat ngikutin 12 episode full nonstop, namun tidak dengan Honzuki. Development yang enak dinikmati meskipun tidak ada karakter yang sempurna untuk dijadikan panutan dalam anime ini.  Fokus kepada cerita sangatlah terasa dengan kehadiran narator serta lagu pengiring yang sesuai dengan tema, tidak mencoba mengungguli plotnya.

honzuki

Unsur sihir, sosial dan budaya semakin terlihat di musim kedua ini. Great story building.

Setidaknya saya merekomendasi kalian terlepas dari preferensi genre apapun untuk mencoba menontonnya. Apalagi anime ini tidak ada fans service yang membuat chance untuk tayang di TV Indonesia sangatlah besar tanpa cut sensor sedikit pun. Anime ini bisa kalian nikmati juga gratis melalui kanal Youtube Muse Asia (artikel ini tidak disponsori siapapun). Untuk musim pertama kalian bisa menontonnya di playlist ini, dan untuk musim kedua kalian bisa menontonnya di playlist ini.

Benar-benar saya dibuat takjub dengan adaptasi dari studio Ajia-do. Mereka mampu membuat dua anime komplit dengan kualitas diatas rata-rata di musim semi kemarin. Musim ketiga Honzuki akan berfokus kepada kehidupan Main menghadapi kerasnya bangsawan. Semoga animenya bisa mempertahankan kualitasnya.

Penilaian numerik dari saya bisa kalian lihat di link ini.