[Review] Kakushigoto

August 27, 2020 6:45 pm
[Review] Kakushigoto

Halo pembaca JOI yang setia, apakah kalian menikmati anime musim panas ini? Sebelum musim panas berakhir saya membawakan kepada kalian sebuah review dari anime jebolan musim semi.

Kalau kalian masih mengingatnya di musim semi, anime Kaguya-sama Season 2 sangat mendominasi. Namun terlepas dari ini, ternyata ada satu anime yang tidak saya sangka bisa menyaingi kehebatan Kaguya dalam musim tersebut.

Adalah Kakushigoto anime adaptasi manga buatan dari Kumeta Kouji. Anime ini diproduksi oleh studio Ajia-Do dan telah berjalan selama 12 episode. Kouji sendiri berkata kalau kalian tidak usah membaca manganya, nikmati saja animenya.

Sebenarnya apa sih yang membuat Kakushigoto terdengar begitu spesial? Berikut ulasannya.

Visual Sepele, Namun Menghibur

Saya sebut ini art unik khas Kakushigoto.

Kalau dilihat dari visualnya, Kakushigoto tidak terlalu menarik untuk ditonton. Gambarnya begitu simpel, bahkan desain karakter tampak suram terlihat dari mata mereka yang dominan hitam. Pewarnaannya juga tidak ribet dan kebanyakan latar belakang terlihat seperti anime jaman dahulu.

Meski demikian, saya terheran-heran dibuat oleh anime ini. Tidak butuh waktu lama bagi anime ini untuk memikat para penontonnya. Di episode pertama sangat mudah bagi penonton untuk melebur menjadi satu dengan ceritanya.

Kakushigoto menyediakan lawakan yang pecah, menggelitik sendi matimu hingga kotak tertawa Anda bisa cepat habis. Beberapa jokes mungkin perlu pemahaman bahasa Jepang yang mendasar karena judulnya saja sudah merupakan permainan kata.

Meet Tomaruin. This character literally ruins everything. Tapi tanpa dia ga bakal seru.

Kakushigoto berarti pekerjaan rahasia. Namun istilah ini dipakai juga untuk penamaan karakter utama yaitu Kakushi Gotou.

Kakushi Gotou (kedepannya disebut Gotou) adalah seorang pembuat manga shimoneta (dirty jokes) yang memiliki seorang anak gadis berusia 10 tahun bernama Hime Gotou (kedepannya disebut Hime). Gotou sanggat overprotektif kepada Hime. Dirinya tidak mau anaknya mengetahui pekerjaan aslinya tersebut. Berbagai usaha dilakukannya untuk menutupi identitas sesungguhnya. Oleh sebab itu judulnya memiliki nama yang seragam dengan berbagai istilah. Anyway, Kakushigoto juga bisa berarti pekerjaan menggambar.

Kedepannya banyak jokes lain yang sesuai dengan istilah dari bahasa Jepang namun masih banyak jokes yang encer dicerna oleh penonton di luar Jepang. Anime ini memberikan hiburan dari segi kehidupan mangaka serta hubungan single parent antara ayah dan anak yang masih beranjak dewasa.

Makna yang dalam di setiap scene

Setelah maju beberapa episode, kamu akan sadar kalau ada dua PoV dalam seri ini. Yang pertama adalah Gotou di masa lalu sebagai MC. Kedua, di tiap akhir episode muncul Hime di masa depan sebagai MC.

Gotou sebagai MC lebih membawa cerita kepada kebahagian, kekonyolan, dan berbagai tingkah laku yang dapat membuatmu tersenyum. Sedangkan Hime yang hanya mendapat beberapa menit di akhir membuat penonton berspekulasi tentang akhir cerita yang sedih. Dualisme inilah yang membuat Kakushigoto menarik baik dari segi cerita komedi maupun cerita sedihnya.

Anime Kakushigoto dilengkapi juga dengan lagu penutup yang unik. Lagu penutup yang berjudul “Kimi wa Tennenshoku” adalah lagu yang dirilis pada tahun 1981. Lagu yang ditulis oleh Takashi Matsumoto dan dinyanyikan oleh Eiichi Ootaki memiliki arti yang cukup dalam. Lirik lagu ini juga sesuai dengan tema yang dibawakan oleh anime ini sehingga kesan yang ditimbulkan sangat mendalam, apalagi background dari penulisan lagu tersebut menambah rasa perih terhadap makna lirik lagu tersebut.

Memang pemilihan musik yang dipakai dalam anime ini tidak asal-asalan. Alunan melodi yang diperdengarkan sangat mendukung setiap babak dalam anime ini. Perubahan situasi dan perasaan sangat terasa berkat perpaduan suara dan visual yang bersinergis membuat penonton terhanyut dalam alur anime ini.

Puncaknya pada episode terakhir, ketika Hime yang sudah dewasa mengambil alih keseluruhan episode dan rahasia serta teori semua dipatahkan dalam episode ini. Klimaks dari cerita ini begitu disajikan sempurna. Mungkin budget anime ini berat pada scene ini, dimana kalian bisa melihat mulai dari latar belakang hingga timing lagunya perfectly directed. Padahal seharusnya penonton bisa mengantisipasi adegan feel ini dengan clue yang sudah ditampilkan selama 11 episode sebelumnya. Namun air mata tentu sulit terbendung dengan adanya scene yang begitu menawan.

Incoming budget train..

Bukan Sembarang Kata Jika Anime Ini Menakjubkan

Melihat dari briliannya adaptasi anime ini, tentu tidak heran mangaka sendiri berkata demikian. Murano Yuuta, sang sutradara sangat cemerlang dalam mengarahkan anime ini menuju sebuah karya yang tidak bisa dipandang mata. Apresiasi juga patut diberikan kepada studio Ajia-Do yang padahal juga sedang membuat Honzuki yang tidak kalah bagusnya di musim tersebut.

Walau demikian Kakushigoto masih memiliki beberapa kekurangan. Tidak semua karakter yang ditampilkan mendapat development meski ada gap time yang bisa dimanfaatkan untuk menampilkan hal tersebut. Yang penting cerita tetap fokus kepada kisah Gotou dan Hime.

Kakushigoto sempat terkenal di kalangan otaku Indonesia dengan karakter Nadila yang berasal dari Indonesia. Nah, Nadila menjadi salah satu yang hilang keberadaanya di timeline 10 tahun kedepan. Sisanya bagi saya ok meski kadang visual terkesan gampangan namun feelnya tetap berasa.

By the way, Rasuna best girl

Jika kamu mencari sebuah anime yang menghibur untuk membuatmu tertawa dan merasakan kesedihan, Kakushigoto adalah pilihan yang tepat. Meski Gotou menulis manga shimoneta tapi unsur ecchinya kurang berasa. Murni lebih condong ke komedi yang akan kamu dapatkan dari kisah Gotou dan manganya. Anime ini juga begitu menghangatkan hati dengan tema keluarga yang heartwarming. Sangat disayangkan apabila kamu melewatkan serial anime sebagus ini.

Kaptain

Berhubung Blue udah ngasih impresi positif, saya bakal ngasih yang lebih negatif walaupun saya ngeliat seri ini sebagai salah satu seri favorit saya di musim lalu. Di luar drama tentang keluarga Gotou yang emang punya latar belakang yang nyakitin, sebenernya kebanyakan topiknya itu uneg-uneg Kumeta soal industri manga yang not doing so hot as times goes. Apalagi kalau mau diliat secara kritis Gotou masuk koma gara-gara pembajak manga. Saya bilang komedi khas dia baru bener-bener muncul di episode ryokan.

Berbagai Twist juga dijejalin di episode akhir yang ngebuat dramanya diburu-baru banget penyelesaiannya, begitu juga dengan rentetean karakter baru yang numpahin eksposisi. Tapi staf emang udah ngelakuin apa yang mereka bisa dengan jatah tayang mereka. Saya bilang sih bakal kebantu banget kalau 2 episode dipake buat klimaksnya.

Ini seri Kumeta yang lebih melankolis jadi maaf untuk kalian yang mengharapkan komedi khas dia. Persentasenya lebih dikit di sini dan melihat staf anime memutuskan untuk ngebagi episode antara masa lalu yang komedik dan masa depan yang lebih depresif bagian guyonnya memang jadi terbebani, tapi ini juga efektif buat ngehasilin simpati pada keluarga Gotou yang juga termasuk para asistennya, they’re effectively his children too.