5 Alasan Kenapa Vtuber Bisa Jadi Lebih Sukses Daripada Anime di Tahun 2020

October 20, 2020 10:59 am
5 Alasan Kenapa Vtuber Bisa Jadi Lebih Sukses Daripada Anime di Tahun 2020

2020 memang bukan tahun yang baik bagi kita semua, nyaris tanpa terkecuali karena everything this year has done to the world has been quite sh***y tbh. Bahkan beberapa anime harus ditunda penayangannya pada awal tahun ini karena pandemi yang juga melanda Jepang. Salah satu contohnya saat Gundam Build Divers Re:Rise harus ditunda saat lagi seru-serunya, namun demi keamanan staf dan seiyuu, sesi perekaman suara harus ditunda. Mungkin memang lebih baik seperti itu.

Namun di tengah pandemi ini, ada sekelompok orang yang tiba-tiba melesat naik ke atas, melampaui populernya anime dan serunya manga. Sekelompok content creator yang berada di belakang layar komputer mereka taking the world by storm di sepanjang tahun 2020 ini. Ya, saya berbicara mengenai Vtuber dan tren ini sepertinya belum akan pudar dalam waktu dekat. Sepertinya malah makin banyak Vtuber yang akan naik di tahun-tahun berikutnya.

Kalau kamu bilang ke saya, apakah Vtuber bisa mengalahkan anime pada tahun 2018, I will probably laugh in disbelief, tapi bila kamu bilang apakah Vtuber adalah masa depan? I would totally said yes in a heart beat. Walaupun pengalaman saya bersama Vtuber bisa ditarik jauh sampai ke Annoying Orange, bahkan di zaman Kizuna Ai pun saya masih skeptis bila Vtuber bisa benar-benar terkenal kecuali dengan dukungan korporat. Nama Nijisanji pun mulai saya dengar sejak awal 2019, namun baru sejak Q3 2019 saya mendengar mengenai “idol” virtual dari Hololive.

Sebenarnya saya pun masih belum begitu tertarik pada saat itu, karena saya berpikir “Ah paling acaranya juga cuma main game doang kan, apa bedanya sama streamer yang sudah gue ikutin sampai saat ini.“. I put up a wall before I even tried, I reject these girls even before I tried. I thought to myself that I have a lot more to do rather than chasing over some live2D avatar acting cute and fun over the camera. Tembok yang saya buat itu kokoh, bahkan saat saya ke Jepang di akhir 2019 lalu pun saya masih sulit menerima Vtuber dalam keseharian saya, but now that I think more into it, a little crack has been forming on that wall for awhile. Seperti biasa, Nugrahadi selalu punya racun yang tepat di saat yang tepat, kali ini dia memperkenalkan Hoshimachi Suisei kepada saya and oh boy, that little crack on my wall, are about to burst into thousand pieces.

Now, I find myself watching vtuber a hell lot more than I watched animes, sejak pertemuan pertama dengan Suisei membuat saya mulai nyoba-nyoba Vtuber satu demi satu, label demi label, bahkan beberapa Vtuber yang independent dan tidak terikat dengan label manapun. How did it get into this point? Apakah Vtuber benar-benar berpotensi untuk menggeser posisi anime sebagai pengisi waktu favorit para otaku di masa ini?

1. Did anyone say WFH is Work From Home? Nah fam, it’s Working For Hololive.

Sejak awal 2020 ini saya melihat spiking yang begitu tinggi dari channel para Vtuber tanpa terkecuali, karena orang-orang terpaksa untuk tinggal di rumah untuk sementara dan kadang-kadang bosan kalau kita disuruh untuk melakukan hal yang itu-itu saja. Nonton anime sudah, baca manga kena suspend karena covid, mau nonton film bosan, mau keluar rumah takut meninggal, jadi mau ngapain lagi dong di waktu-waktu kosong ini. Fear not because Vtubers are here. Covid mungkin menjadi sebuah dorongan yang tepat bagi para penonton yang sebelum ini sudah mengenal adanya Vtuber, tapi belum mau untuk mulai nyemplung dalam jurang ini. Namun perlahan tapi pasti, pintu hati saya pun terketuk sembari mencoba untuk mengerti kenapa sih temen saya bisa kecanduan Houshou Marine.

Tidak jarang kemudian I find myself working while watching vtuber’s stream, awalnya saya hanya mau mencoba Suisei and I believe I said to Nugra that I don’t want to dig deeper into the hole. But of course I fell deeper into the hole, what do you expect? Dari Suisei yang mempunyai tendensi psikopat, lalu saya mulai mencoba mengenal Watame yang lebih fluffy, Nugra kembali ngeracun Matsuri yang agak, well, degenand it’s all downward spiral from there. 

Saya juga lebih senang untuk menonton konten Vtuber daripada anime, karena memang nature dari konten gaming/karaoke mereka yang lebih mudah untuk ditonton kapan saja, saya jadi sering menonton/mendengarkan mereka bernyanyi sembari melakukan hal lain. Rasanya kita tidak mungkin bisa menonton anime sambil bekerja atau farming di game lain, karena perhatian kita akan terbagi.

2. There’s no limit to Vtuber’s content, NO LIMIT I tell you.

Saya kira semua Vtuber akan seperti anak-anak Hololive, agak degen tapi tidak lupa karena sejatinya mereka adalah idol, jadi ada garis-garis yang tidak bisa mereka lewati. Karena itu mereka membatasi konten-konten yang ditayangkan untuk tidak melampaui norma-norma tertentu. Kecuali mungkin Haachama (Rest in Peace, Akai Haato) dan konten-kontennya yang terus membuat saya garuk-garuk kepala. Bahkan se-degenerate-nya Matsuri, saat dia perlu seiso maka dia bisa jadi seiso idol, sepsikopat-psikopatnya Suisei saat main Winter Project, saat dia bernyanyi saya akan menikmati.

Namun di sisi lain, ada sekelompok Vtuber yang sepertinya tidak terkait batas, dan membuat konten kadang-kadang seenak jidatnya, ya saya berbicara mengenai Vtuber-vtuber dari Nijisanji. Walaupun mungkin Hoshikawa Sara adalah Vtuber Nijisanji pertama yang pernah saya tonton, thanks to Matsuri, saya tidak pernah benar-benar ingin tahu Nijisanji sampai saya melihat video berikut ini:

Di luar kelakuan Ryuushen yang rada-rada chaotic atau video Hayato yang rada gila, I found both Chima and Levi from this clip, and oh boy have I ever loved any singer before like I loved them. Chima yang terlihat kekanakan tapi memiliki suara bak malaikat dan sense of humor ojii-san mid 30, dan Levi dengan tarikan suara dan power yang luar biasa. Sejak saat itu saya tidak pernah melewatkan stream kedua dara ini, terutama stream karaoke mereka. Believe me it will heal your soul.

Namun tidak hanya nyanyian, saya juga kemudian terjebak dalam konten-konten Nijisanji yang lain, mulai dari Ange, Rindou, Suzuka dan Gundou (sukebe-bu best), kelakuan Chaika, lucunya Lize dan saya masih bingung gimana Gundou bisa bebas ngomongin status keperawanan anak-anak Nijisanji dan cerita mengenai pengalaman seksualnya secara bebas di stream-nya. But I like it therefore it’s awesome. Bagi saya ada yang lebih menarik dari Nijisanji dan aura kebebasannya yang tidak bisa diperlihatkan dengan bebas oleh anak-anak Holo.

3. An anime episode aired for 20 minutes, how many days have Korone played that game non-stop again?

Normalnya sebuah anime berdurasi 20 menit bisa kita tonton beberapa episode dalam sehari, tergantung alokasi waktu kita untuk menonton anime tersebut. Namun sekarang, kadang-kadang leisure time untuk nonton anime pun mulai bisa digeser untuk menonton Vtuber. Bahkan konten-konten Vtuber pun lebih panjang durasinya daripada anime, satu kali stream setidaknya akan memakan sekitar 60 menit sebelum stream super chat. Namun kalau nama kamu Inugami Korone, chances are you’re going to suffer forever, or be happy forever depending on your preferences. Ingat saat PS4 Korone meledak (note: ini hiperbola) saat main Assassin Creed selama nyaris 24 jam (or was it over 24h?), good times.

Di sisi lain, apakah kamu pernah mendengar seseorang nyanyi Freesia selama 8 jam straight? Dengan judul stream yang berbunyi “Berapa kali seorang manusia bisa menyanyikan Freesia sebelum akhirnya menyerah.” It was Chima. Atau Levi yang menyanyikan Rage of Dust selama 8 jam lebih tanpa break? kadang saya berpikir apakah orang-orang ini benar manusia atau bukan, terutama Chima dengan perfect pitch-nya.

Also, remember that time Fubuki didn’t say anything during her stream but digging through a chunk on to bedrock in Minecraft? Apakah masih ada yang PTSD dari stream tersebut? Yeah, that was a great time to question your life.

4. Why YouTube is the perfect place to grow

Jepang sepertinya sadar kalau hikkikomori tidak hanya ada di Jepang, tapi juga di seluruh dunia dengan intensitas yang walaupun berbeda, sama-sama punya banyak waktu yang bisa ditarik untuk menonton talenta mereka di layar kaca. Saya pun bingung kenapa Vtuber ini lebih banyak menggunakan Youtube sebagai media penayangannya, tapi lama-lama rasanya sangat masuk akal karena YouTube adalah media platform untuk video terbesar di dunia. Orang-orang Jepang pun mulai beralih dari Niconico ke Youtube untuk tayangan sehari-hari. Dengan Youtube, para Vtuber ini bisa menjaring penonton dari seluruh dunia, kecuali China dan Korea Utara.

Bila mereka menayangkan acara Vtuber di Niconico, sepertinya tidak mungkin penonton non-Jepang bisa dengan mudah menonton kontennya, dan apabila mereka menutup stream mereka dengan region lock, tidak mungkin para Vtuber ini bisa mencapai kesuksesan layaknya sekarang. And hey, Youtube is free, you can use it however you want and people can find you easily, belakangan proses untuk jadi member dan saweran pun makin mudah untuk menunjukkan apresiasi mereka.

5. Profitable is an understatement.

Memang kepopuleran mereka mungkin belum sebesar Kizuna Ai yang sudah tampil di banyak iklan sebelum ini, namun perlahan tapi pasti para Vtuber ini mendapatkan brand deal dan brand sponsorship yang pastinya bisa membuat mereka makin dikenal. Kolaborasi Curry Meshi Nissin dengan beberapa talenta Hololive misalnya, atau sponsorship dari ASUS dengan brand TUF mereka kepada Fubuki dan Watame tempo hari, was a great sponsorsheep.  Selain sama-sama menimbulkan brand awareness, hal ini juga menjadi sebuah blessing untuk portofolio dari para Vtuber dan di kemudian hari mereka bisa menggunakan portofolio tersebut sebagai sebuah bukti kepada calon sponsor.

Selain itu kita juga mulai melihat merchandise-merchandise berbau Vtuber seperti voice pack, CD musik, atau masih banyak lagi merchandise seperti tapestryacrylic stand, official art yang dijual langsung oleh para agensi. Bahkan beberapa perusahaan seperti Good Smile Company juga mulai membuat Nendoroid berdasarkan karakter-karakter Vtuber seperti Matsuri dan Fubuki. Bila hasil penjualannya bagus, saya tidak heran bila avatar-avatar yang lain juga akan menyusul dan tidak berhenti di Nendoroid saja, karena baik Fubuki dan Kagura Mea pun sudah dibuatkan scale figure-nya.

Kita juga tidak bisa berbicara mengenai profit tanpa berbicara mengenai Superchat, beacuse these things do hit insane numbers at times. Penulisan artikel ini bertepatan dengan perayaan 3D live 500.000 subscriber Suisei, dan dari super chat saja, Suisei meraup lebih dari 500 juta Rupiah hari ini. Bruh, that’s a lot of money. Coco yang di hari yang sama kembali dari masa skorsing-nya pun dibanjiri super chat merah. Bagaimana dengan Hayato yang 3D livenya berhasil mengumpulkan 10 juta Yen lebih dalam bentuk super chat? Sekitar 1,3 milyar Rupiah terkumpul dalam kurun waktu kurang dari 2 jam, maybe Vtuber really is the future.

Jadi, apakah Vtuber bisa menggeser posisi anime dari hati para otaku?

Well yes, but actually, no.

Secara general, keduanya adalah tipe tayangan yang berbeda, Vtuber memiliki konten yang lebih berpusat kepada kepribadian dari sang Vtuber sendiri. Sehingga ketertarikan penonton pun kadang sangat tergantung kepada apakah sang Vtuber bisa membuat kontennya menarik atau tidak. Berbeda dengan anime yang memiliki kontinuitas cerita, Vtuber tidak memiliki kemampuan untuk membuat cerita yang kompleks dengan banyak karakter dan world building yang luas. Kontinuitas dari Vtuber biasanya didapatkan dari konten gaming mereka yang tidak bisa selesai dalam 1 episode saja, atau saat mereka bermain game-game open world seperti Minecraft atau Ark.

Jadi, apakah Vtuber bisa menggantikan posisi anime dari dalam hati para otaku, sepertinya susah dan hampir tidak mungkin karena anime punya charm dan peran tersendiri dalam hati kita. Dunia imajinasi dalam anime jauh berbeda dengan Vtuber yang baru saja muncul dewasa ini. Namun apakah mereka bersaing untuk memperebutkan penonton dan time slot yang sama? Absolutely.

Manusia hanya punya 24 jam dalam sehari, yang kita habiskan setidaknya 2/3-nya untuk tidur dan bekerja atau sekolah. Kita hanya punya 1/3 dari hidup kita yang tersisa untuk menikmati hiburan duniawi, itupun dikurangi waktu untuk commuting atau kamu yang bekerja lebih dari 8 jam sehari. Dari sisa waktu yang sedikit itu berapa banyak yang akan kamu luangkan untuk menonton anime, berapa banyak yang kamu luangkan untuk menonton Vtuber? Atau apakah kamu lebih suka untuk mengisi waktu luangmu untuk melakukan self-improvement. Waktu luang seseorang memang berbeda dari individu ke individu, namun bagaimana mereka mengisinya tentu berbeda juga. PersonallyI find myself immersing my soul in Vtuber almost every day now and leave almost nothing for anime.

Omong-omong soal mengisi waktu? Buat kamu yang suka baca manga romantis mungkin akan suka dengan sponsor dari artikel kali ini, Harlequin Comics.

Mau mencoba baca komik romantis yang punya rasa-rasa manis dan pahit, tapi juga legal dan murah? Yuk cobain baca di romancecomics.com, situs ini membawakan komik-komik romantsi dari penulis-penulis best seller Harlequin Novels dan diadaptasi oleh mangaka Jepang menjadi seri shoujo. Ada ribuan komik berbahasa Indonesia dan puluhan ribu komik lain dalam berbagai bahasa. Selalu ada komik baru setiap harinya, jadi kamu tidak perlu takut untuk kehabisan bahan bacaan.