[Review] Mushoku Tensei: Isekai Ittara Honki Dasu

April 8, 2021 5:18 pm
[Review] Mushoku Tensei: Isekai Ittara Honki Dasu

Halo pembaca JOI yang setia, hehe sudah berapa kali saya menyebutkan ini dalam salam pembuka di setiap artikel review. Semoga kamu ga bosen ya! Jadi, masih dalam suasana anime musim dingin yang baru selesai, saya akan membahas kembali salah satu judul yang cukup memicu kontroversi di antara para fans atau bukan fans. Apa lagi kalau bukan Kaif- Mushoku Tensei!

Mushoku Tensei: Isekai Ittara Honki Dasu atau dalam judul inggrisnya Jobless Reincarnation merupakan anime adaptasi novel karangan Rifujin na Magonote. Rifujin na Magonote meluncurkan novel ini secara daring di situs Shousetsuka ni Narou pada 22 November 2012 dan berakhir pada 3 April 2015 dengan total 24 volume. Novel daring ini akhirnya resmi menjadi light novel di bawah naungan Media Factory pada 23 Januari 2014 dengan ilustrasi buatan Sirotaka.

Animenya sendiri rilis mulai 11 Januari 2021 hingga 22 Maret 2021 dengan total jumlah 11 episode. Bagian keduanya baru akan tayang pada musim panas mendatang.

Dari 11 episode pertamanya saja, Mushoku Tensei sudah menimbulkan polemik hingga dihentikannya penayangan anime ini pada platform Bilibili di China. Tidak hanya di China, beberapa suara negatif juga bergema di bagian bumi sebelah barat. Penyebabnya tidak lain adalah perilaku karakternya yang super mesum dan indikasi pedofil dan semacamnya. Apakah benar demikian?

Kalau kita lihat dari genrenya, Mushoku Tensei adalah seri isekai. Oke dari sini saya sudah paham, pasti ada haters genre ini yang siap menyerang apabila ditemukan titik lemah pada serial tersebut. Apalagi para otaku sangat menyanjung seri ini ketika adaptasi animenya diumumkan. “Bapak dari segala Isekai” lah atau “Ini baru Isekai yang berkualitas” atau “Pandangan kalian terhadap isekai pasti berubah ketika menonton ini”. Dan nyata ternyata berbading terbalik dengan harapan para otaku dalam mewujudkan isekai yang bisa diterima oleh hatersnya.

Emang gimana sih cerita Mushoku Tensei sampai mendapat dua opini yang sangat berbeda? Jadi, Mushoku Tensei itu menceritakan seorang NEET yang benar-benar sampah diusir dari kediamannya lalu singkatnya mati tertabrak truk. So classic ya? Iya, tapi itu baru prolognya doang. Si NEET tadi yang sudah meninggal kini bereinkarnasi kembali jadi bayi di dunia lain. Ya dunianya bertemakan fantasi sih. Nothing spectacular, right? Tapi di sinilah ceritanya baru dimulai. Rudeus Greyrat adalah karakter utama dari serial ini. Dia adalah NEET yang bereinkarnasi tadi, namun tidak serta merta menghilangkan sifatnya yang sampah dan mesum sejak dulu sampai menjadi bayi kembali di dunia nyata. Dengan kombinasi seperti ini, komplitlah sudah haters akan bersuara. Eits, tapi sekali saya katakan, ini baru permulaannya.

Mulai lagi dari bayi membuat Rudeus kecil harus mempelajari segalanya dari awal. Mulai dari cara berjalan yang tentu saja cepat tapi tidak instan. Lalu mempelajari cara berucap, tata krama dan lain-lain. Buat apa sih kita nonton bayi belajar ngerangkak? Ya supaya kamu tahu, kalau anime ini tidaklah instan. Ada proses yang terjadi sebelum Rudeus bisa menjadi pria yang diandalkan. 

Berbeda dengan seri isekai lainnya di mana karakter utamanya langsung OP ga ada obat, Mushoku Tensei memperlihatkan kita bagaimana indahnya sebuah proses. Rudeus mungkin berbakat soal sihir tapi soal keterampilan berpedang Rudeus adalah nol besar. Jadi jelas sekali karakter utama di sini tidaklah OP betul seperti isekai lainnya. Rudeus sendiri membutuhkan guru pendamping untuk mempelajari sihir lanjutan, tidak bisa langsung bisa dengan belajar mandiri. 

Setelah ditempa skillnya, Rudeus juga mengalami proses dalam pembentukan kepribadian. Melalui ajaran gurunya, Roxy, Rudeus diajak untuk berani keluar dari lingkungan rumahnya. Mengubah seorang NEET yang sudah pakem #dirumahsaja tentu membutuhkan proses lainnya agar ia berani seutuhnya untuk keluar dari zona amannya. Terbukti setelah berhasil keluar rumah tidak serta merta membuat pikiran Rudeus terbuka untuk mau menjelajahi dunia di luar rumahnya. Penonton terus diajak menonton Rudeus kecil dan lingkungan rumahnya selama beberapa episode hingga surat dari Roxy kembali mengajak Rudy agar bisa keluar dari zona aman.

Barulah kita melihat proses lainnya yang akan dialami Rudy kecil yakni perjuangan untuk bisa mendapatkan hak pendidikan di sekolah. Eits, ga bisa langsung gitu aja. Butuh biaya dan akhirnya Rudy kecil harus bekerja lagi sembari diproses lagi untuk belajar hal baru seperti kemampuan berpedangnya yang masih tumpul dan bahasa asing lainnya. Dan masih banyak lagi proses yang terjadi, kalau kita perhatikan sebenarnya 11 episode ini semuanya adalah prolog, di mana Rudy baru bisa betul-betul siap berpetualang pada bagian kedua nanti.

Setelah kamu membaca cuplikan cerita yang saya tulis, bagaimana pendapat Anda? Apakah anime ini memang ampas atau luar biasa? Bagi saya sendiri, Mushoku Tensei menghadirkan sebuah perjalanan isekai yang baru dan menantang di mana kita benar-benar merasakan petulangan Rudy sejak lahir hingga nanti mungkin sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. 

Grafis yang disajikan oleh Studio Bind benar-benar merupakan kualitas di atas rata-rata. Contoh saja momen ketika Rudeus merapalkan mantra Cumolonimbus untuk pertama kalinya. Mungkin saja itu budgetnya lebih besar daripada keseluruhan episode anime EX-ARM. Padahal Studio Bind baru pertama kali membuat anime dengan merk mereka (ya, walau dapat banyak backingnya sih).

Animasi dari studionya juga padu dengan iringan musik seperti opening yang tidak disia-siakan dan dengan cermat tetap diselipkan pada setiap episode (colek sutradara Re: Zero S2). I have no complaint about music ditambah semua seiyuunya professional. Soal cerita dan karakter yang sering dikeluhkan oleh haters, saya sendiri menilai itu adalah wajar. Karakternya memang mesum seperti itu, tidak bisa diubah secara instan apalagi Mushoku Tensei benar-benar menyajikan proses yang sangat panjang. Jadi soal cerita saya juga berpendapat fine-fine saja, setidaknya ini lebih baik daripada kebanyakan isekai di luar sana.

Mushoku Tensei memang bukan anime yang sempurna. Tetapi bukan berarti Mushoku Tensei layak untuk mendapat ulasan negatif yang sangat bias terhadap budaya tertentu. Ah iya, bicara soal budaya, kebudayaan yang diperlihatkan anime ini begitu spesifik loh! Mulai dari bahasa iblis yang benar-benar disuarakan seperti bahasa asing sehingga jerih payah Rudeus dalam mempelajarinya begitu terasa (that’s why I write them as professional seiyuu). Ada juga budaya ulang tahun yang dirayakan setiap 5 tahun sekali, ini sudah menjadi sebuah warna tersendiri yang secara tidak sadar membuat anime ini memang mungkin adalah salah satu kualitas terbaik dari semua seri isekai.

Mushoku Tensei

Masih banyak cerita dan berbagai hal menarik dalam anime ini yang mungkin perlu kamu tonton agar kamu bisa menilai seberapa besar nilai yang dimiliki oleh anime ini. Ingat semua cerita isekai adalah fiksi yang sebenarnya tidak perlu kamu kritisi dengan kebudayaan dunia nyata. Yang, jelas saya masih perlu menunggu untuk bagian keduanya pada bulan Juli nanti. Toh, semua ini barulah prolog untuk petualangan Rudeus yang sesungguhnya. 

Kaptain

Sentimen saya selama menonton itu kurang lebih bolak-balik antara “ini seri fantasi yang kompeten” dan “Nevermind, ini seri Narou”. Setiap seri ini ngelakuin hal bagus “Pria sebelum Rudeus” nongol dan ngingetin saya untuk nggak positif sama seri ini. Lebih tepatnya saya nggak suka aja sama keputusan nulis Rifujin daripada si NEET. Saya tahu versi LN dan lokalisasi barat banyak ngasih penyesuaian pikiran internal Rudeus karena dari yang saya liat versi WN jauh lebih parah, dan versi anime ini walaupun luar biasa kualitas produksinya saya nggak merasa cukup melakukan penyesuaian lebih lanjut.

Ini memang sudah keputusan staf, tapi saya sendiri penasaran melihat kontoversi seri membuatnya kehilangan pasar besar, apakah lanjutannya nanti bakal lebih “adem”.Melihat jelas walaupun staf emang punya passion sama proyek saya ga yakin komite produksi seneng sama kehilangan pasar.

Dan to be fair aspek yang saya nggak suka pada akhirnya juga cuma sebatas sama si “Dewa” yang kesannya jadi sesi Hint pas Loading game. Kesannya cerita nggak tahu cara ngegerakin party Rudeus.